




Foto:bd-dtc
(Berita Daerah-Sulawesi) Pejabat Dinas Perkebunan Sulawesi Tengah mengatakan, daerahnya memiliki vanili (vanilla planifolia) kualitas ekspor, namun hingga kini belum dimanfaatkan secara maksimal.
Kasi Promosi dan Pemasaran Dinas Perkebunan Sulawesi Tengah, Rahmawati di Palu, Sabtu, mengatakan beberapa tahun silam sejumlah pedagang mencari vanili di Sulawesi Tengah untuk diekspor karena saat itu permintaan sedang tinggi.
"Saya sempat membantu eksporter itu bertemu petani vanili di Kabupaten Poso," katanya.
Rahmawati mengatakan, vanili asal Sulawesi Tengah itu memiliki kualitas nomor satu karena harumnya khas, dan tidak sama dengan vanili dari daerah lain.
Ia berharap masyarakat petani di Sulawesi Tengah juga bisa mengembangkan tanaman vanili disamping tetap menanam komoditas unggulan lainnya.
Saat ini Sulawesi Tengah memiliki komoditas unggulan kualitas ekspor, seperti cengkeh, kakao, kopra dan minyak kelapa sawit.
Dia mengatakan, saat ini masyarakat lebih suka menanam kakao dari pada vanili karena harga biji coklat yang relatif stabil dan permintaan tinggi.
Harga biji kakao kering di pasaran Sulawesi Tengah mencapai Rp19.000 per kilogram.
Sementara itu harga vanili saat ini mencapai Rp100.000 per kilogram, namun membutuhkan perawatan lebih dari pada komoditas perkebunan lainnya.
Bunga vanili yang telah mekar hanya dapat bertahan satu hari. Jika bunga yang mekar itu tidak segera dikawinkan maka akan layu dan kemudian rontok.
Oleh sebab itu, katanya, petani harus sering keliling kebun untuk mengontrol perkembangan tanaman vanili.
"Sebenarnya itu mudah dilakukan, jika kita mau sabar dan telaten," kata Rahmawati.
Menurutnya, memiliki tanaman vanili juga merupakan investasi masa depan karena permintaan akan terus ada.
Saat ini vanili banyak dijumpai di Kabupaten Poso, 220 kilometer dari Palu, Ibu Kota Sulawesi Tengah.
Produksi vanili di Kabupaten Poso saat ini mencapai 45 ton per tahun dengan luas areal tanam 424 Hektare.
Vanili sebenarnya berasal dari Meksiko yang ditanam oleh orang Indian. Namun saat ini, Madagaskar di Afrika timur banyak mengembangkan tanaman ini dan mengekspornya ke berbagai negara untuk dijadikan pengharum makanan.
(dn/DN/bd-ant)