VIBIZPORTAL.COM   Financial   Regional   Management   ICT   Shopping   Lifestyle   Fashion   Jobs & Career   Forum
Pusat Informasi Potensi Daerah Indonesia - Pariwisata & Investasi Usaha Search
Home
Semburan Kembang Api Mulai Memecah Langit Buol
Senin, 6 September 2010

(Berita Daerah-Sulawesi) Alunan ayat-ayat Allah malam itu nyaring terdengar hingga di luar ruang ICCU rumah sakit umum Buol, Sulawesi Tengah.

Ayat-ayat Allah itu diperdengarkan menggunakan telepon genggam diletakkan tak jauh dari kepala Supriyadi, korban penembakan saat bentrokan berdarah antara warga dan polisi di Buol.

Ada keluarga duduk di bagian kepala menjaga selang oksigen yang tersambung di hidung Supriyadi. Yang lain berdiri di sisi kiri dan kanan ranjang perawatan. Ada yang mengipas, menjaga selang infus di lengan dan kaki Supriyadi, meski akhirnya jiwanya lelaki itu tidak tertolong.

Di ruangan lain ada pula pasien yang duduk dengan perban di leher, terbaring dengan mata sebelah dibalut perban, ada pula pasien yang berjalan-jalan di lorong rumah sakit dengan perban di dada, selang infus di lengan.

Ada juga beberapa orang berbadan tegap menggunakan loreng hijau berjaga-jaga. Mereka tersebar di beberapa sudut rumah sakit. Ada yang memegang handy talk, bedil di pinggang, dan menggendong senjata laras panjang.

Begitulah suasana di rumah sakit umum Buol saat merawat korban kekerasan bersenjata di daerah itu. Demi keamanan, tentara diterjunkan membantu pengamanan di rumah sakit dan fasilitas-fasilitas vital lainnya.

Sabtu sore suara hiruk pikuk para korban kekerasan di rumah sakit itu erangsur-angsur berkurang. Delapan dirujuk ke Palu, satu orang meninggal dunia. Tidak ada lagi korban tertembak yang dirawat di sana.

Sabtu (4/9), air mata kembali jatuh di tanah Buol setelah Supriyadi meninggal dunia. Anak ke lima dari enam bersaudara itu tidak bisa lagi melanjutkan rencana pertunangannya dengan sang kekasih yang dijadwalkan berlangsung tiga hari setelah lebaran Idul Fitri 1431 Hijriah.

Beberapa hari lewat, rangka-rangka sepeda motor milik polri yang dibakar berserakan di tengah jalan. Pos penjagaan di arak ke jalan, lalu dibakar. Perabot rumah tangga di rumah-rumah anggota polisi dikeluarkan lalu dibakar. Aspal menghitam karena debu sisa-sisa pembakaran menempel. Dua hari itu, 1-2 September suasana dalam kota benar-benar kacau. Jalan diblokir. Lalulintas lumpuh.

Suasana mencekam itu tidak ada lagi. Bangkai motor yang sudah menjadi arang sudah disingkirkan. Batu-batu juga disingkirkan. Hujan yang mengguyur Buol sehari terakhir menyapu bersih sisa-sisa pembakaran di jalan. Lalu lintas dan suasana dlam kota sudah berangsur normal.

Letusan dan semburan cahaya kembang api ke langit sudah mulai bersinar. Sebanyak delapan kali semburan kembang api sudah memancar memecah kesunyian sahur hari ke 25 Ramadhan di Buol. Malam ke-26 Ramadhan juga terdengar sekali letusan dan semburan kembang api.

Fisik kota boleh bersih, kembang api boleh bersinar, tapi sakit hati para keluarga korban belum sembuh. Mereka masih berteriak meminta penegakan hukum atas peristiwa bentrok fisik warga-polri yang mencoreng wajah keamanan di Sulawesi Tengah itu. Pelaku penembakan warga dan yang terlibat dalam aksi itu harus terungkap.

"Ranah hukum harus jalan, kami tidak butuh ceramah yang kami butuhkan keputusan yaitu keputusan hukum yang adil," kata Zainal Rasyid, tokoh masyarakat Buol dan salah satu dari keluarga korban tewas.

Ahmad Andi Makka, salah seorang tokoh pemuda dan pimpinan organisasi kemasyarakatan mengatakan, Polri harus mengusut tuntas pelanggaran prosedur penembakan.

"Pelaku yang terbukti harus diumumkan di media massa agar masyarakat tahu siapa pelaku kekerasan di Buol ini," kata Andi Makka.

Ia mengatakan, kepuasan masyarakat Buol berada pada kejujuran polisi dalam mengungkap pelaku penembakan dan misteri kematian Kasmir Timumun, tahanan polisi di Mapolsek Biau.

"Jika polisi jujur, masyarakat akan puas," kata Andi Makka.

Bergandeng Tangan

Kapolda Sulawesi Tengah, Brigjen Pol Muh Amin Saleh, mau tidak mau turun tangan dalam peristiwa bentrokan warga sipil dan polisi. Sejak perwira polisi bintang satu itu tiba di Buol, Selasa (31/8), sibuk berkonsolidasi dengan para tokoh, mengunjungi rumah korban tewas, dan taraweh keliling di sejumlah masjid.

Gubernur Sulawesi Tengah, HB Paliudju dan Wakil Gubernur, Achmad Yahya, Danrem 132 Tadulako, Kol.Kav Thamrin Marzuki juga turun tangan. Keliling bersafari Ramadhan di masjid-masjid bersama tokoh lokal di Buol. Wakapolri, Komjen Yusuf Manggabari bahkan turun ke Buol.

"Langkah peredam yang dilakukan adalah duduk bersama dengan komponen masyarakat Buol untuk membangun kesepahaman agar aktivitas masyarakat dan pemerintahan berjalan lancar," kata Amin Saleh.

Menurut Amin, upaya rekonsiliasi dibangun di satu sisi, di sisi lain hukum juga terus berjalan. Selama proses hukum berlangsung baru 11 anggota polri diperiksa, satu diantaranya mengarah kuat sebagai tersangka tindak pidana dalam tragedi Buol.

Istana kerajaan Buol juga menggelar rapat mendadak bersama sejumlah tokoh agama, pimpinan organisasi pemuda dan masyarakat, serta lembaga swadaya masyarakat.

Rapat berlangsung di istana kerajaan Buol, Kelurahan Leok Satu. Rapat itu menghasilkan tujuh poin penting. Salah satunya bahwa peristiwa 31 Agustus dan 1 September di Buol adalah pembantaian masyarakat Buol dengan menggunakan senjata api.

"Berdasarkan hal itu kami memohon Komnas HAM membentuk tim independen untuk menginvestigasi secara objektif kejadian di Buol," kata Raja Buol XII, Ibrahim Turungku.

Keputusan rapat di istana kerajaan bahkan meminta agar Kapolri mencopot Kapolda Sulteng karena dianggap tidak mampu mengendalikan situasi. Rapat juga memutuskan agar Kapolri memecat Kapolres Buol, Wakapolres Buol, Kasatlantas Polres Buol, serta pelaku penembakan terhadap korban luka-luka dan meninggal dunia.

Kabupaten Berkah

Rentetan peristiwa bentrokan di Kabupaten Buol, membuat nama daerah ini dikenal luas dalam empat hari terakhir. Namanya meroket. Hampir tidak ada media yang luput dari pemberitaan bentrok berdarah di daerah paling utara Sulawesi Tengah itu.

Buol sebelum era reformasi adalah bagian dari Kabupaten Buol Tolitoli. Sebelum mekar menjadi kabupaten otonom tahun 1999, wilayah ini terbagi dalam lima kecamatan, yakni Biau, Bonubogu, Paleleh, Momunu, dan Bokat.

Setelah mekar, wilayah-wilayah itu dipecah menjadi 11 kecamatan, yakni Kecamatan Lakea, Keramat, Biau, Bokat, Gadung, Paleleh Barat, Paleleh, Bukal, Momunu, Kiloan, Bonubogu.

Ibu kota kabupaten Boul bernama Biau, sekitar 600 kilometer arah utara dari Palu, ibu kota Provinsi. Menuju daerah ini bisa dilalui dengan darat maupun udara.

Wilayah yang berpenduduk wajib pilih 98.928 orang ini memiliki luas wilayah 4,053,47 kilometer persegi.

Masyarakat Buol memiliki karakter budaya yang kokoh. Hal ini tercermin dalam slogan slogan Kabupaten Buol yakni Kabupaten Berkah singkatan dari Berbudaya, Energik, Aman dan Harmonis.

Label Kabupaten Berkah ditempel besar-besaran di tempat strategis dalam dan luar kota, namun keberkahan itu tercoreng dengan cucuran darah masyarakat akibat bentrok antara warga dan polisi.
(ma/MA/ant-Najemuddin)


No page