




Foto:bd-dtc
(Berita Daerah-Sulawesi) Tambak itu sebenarnya sudah "uzur". Dibangun dan beroperasi sejak 1995.Luasnya pun tidak seberapa, hanya sekitar 10 are atau 1000 meter persegi.
Namun sulit dipercaya bahwa tambak tua yang terletak di pinggiran jalan Trans Sulawesi antara Kota Pare-pare dan Makassar ini menghasilkan 5.430 ton udang segar sekali panen.
Artinya, dalam tempo 84 hari sejak benih udang vaname sekitar 300.000 ekor ditebar, tambak ini menghasilkan duit segar bagi pemiliknya DR. Ir. Hasanuddin Atjo, MP sebanyak Rp217 juta.
Menjualnya juga gampang. Buktinya, hanya beberapa menit sebelum air tambak itu dilepas ke laut tanda proses panen dimulai pada Sabtu (14/1) pagi, sebuah truk 10 roda telah parkir di tepi kolam untuk mengangkut hasil panen ke Surabaya dengan harga Rp40.000 per kilogram.
Hasil panen ini membawa khabar gembira bagi masyarakat perudangan karena areal tambak di Sulawesi Selatan selama ini hanya bisa menghasilkan antara 1,3 sampai 1,6 ton untuk areal 10 are.
"Ini berkat inovasi. Bagi petambak udang, inovasi adalah harga mati, kalau tidak usaha akan benar-benar mati," kata lelaki kelahiran Poso, Sulawesi Tengah 52 tahun lalu itu.
Pada areal 800 meter persegi tersebut, Hasanuddin yang memiliki kawasan pertambakan di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, seluas 10 hektare (lokasi terpencar) itu, mencoba membuat sebuah riset dengan menerapkan sistim pertambakan udang pola intensif penuh.
Sudah dua kali siklus panen dilakukan di tambak itu dengan sentuhan teknologi yang sederhana dan relatif murah namun tepat guna. Pada siklus pertama, kolam yang sama menghasilkan empat ton udang vaname.
"Riset ini akan saya laksanakan smapai tiga kali, dan pada siklus ketiga nanti diharapkan produktivitasnya mencapai enam ton untuk areal 10 are itu," ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah ini.
Dengan dibantu dua orang karyawan kepercayaannya, Hasanuddin melengkapi tambaknya ini dengan sebuah instalasi yang disebutnya central drain di tengah-tengah kolam.
Alat ini berfungsi untuk menyedot limbah yang muncul dari kotoran udang dan sisa-sisa pakan ke sebuah lubang besar lalu dilepas ke luar tambak secara periodik sehingga kondisi tembak akan tetap bersih.
Sentuhan teknologi tepat guna lainnya adalah pemasangan kincir sebanyak empat unit dan diperkuat lagi dengan alat pemompa oksigen (blower) ke dalam kolam serta penggunaan probiotik, zat pengurai bahan organik.
"Ketiga peralatan ini akan mendukung tumbuh kembang udang lebih cepat, mencegah kemungkinan masuknya bibit penyakit serta menekan angka kematian benih," ujar doktor perikanan lulusan Universitas Hasanuddin Makassar 2005 ini.
Terobosan lain yang dilakukan pada tambak riset ini adalah menjaga ketinggian air pada level 160 sampai 170 centimeter.
Namun pada siklus ketiga nanti, ketinggian air akan dinaikkan hingga 200 centimeter dan tidak lupa bahkan ini wajib yakni menggunakan benih (benur) yang berkualitas.
Selain itu, konstruksi tambak akan lebih disempurnakan dengan memasang pondasi tembok di pinggiran tambak serta memperluas areal `central drain`. Dengan inovasi ini, tambak seluas 10 are itu diyakini mampu menghasilkan enam ton.
Artinya, kata alumnus Fakultas Perikanan IPB Bogor 1983 itu, kalau pola budidaya intensif seperti ini dilakukan pada areal satu hektare, bisa menghasilkan udang 48 ton.
Segera disosialisasikan
Hasanuddin Atjo yang juga Ketua Asosiasi petambak udang intensif (Shrimp Club Indonesia) wilayah Sulawesi Selatan dan kawasan timur Indonesia itu menyatakan akan segera mensosialisasikan hasil inovasinya ini kepada anggota SCI yang berjumlah 15 `petambak berdasi."
Teknik budidaya seperti ini sangat menguntungkan. Ia memberi contoh, untuk menerapkan teknologi budidaya seperti pembuatan central drain, blower, dan kincir untuk tambak 10 are itu investasinya hanya sekitar Rp100 sampai Rp120 juta.
Biaya investasi ini hanya sekali buang dana saja, sementara modal kerja/usaha selama masa pemeliharaan setiap siklus sekitar Rp100 juta.
"Namun dengan produksi 5,4 ton atau senilai Rp217 juta, biaya investasi yang ditanam sudah bisa kembali. Untuk selanjutnya, seorang petambak tinggal mengeluarkan modal kerja sehingga setiap siklus ke depan akan meraup keuntungan sekitar 60 persen dari nilai produksi yang dihasilkan," ujar Hasan yang mengaku menekuni usaha pertambakan sejak 1994 itu.
Siklus panen tambak udang intensif setiap tahun mencapai tiga kali sehingga dengan areal 10 are saja, seorang petambak akan memperoleh omzet paling sedikit Rp700 juta.
Bila diasumsikan keuntungan mencapai 60 persen, maka hasil bersih yang akan dikantongi petambak akan mencapai hampir Rp400 juta setahun hanya dengan tambak 10 are.
Karena itu, ujar Hasanuddin, bila seorang petambak anggota SCI mengusahakan dua hektare saja lahannya secara intensif seperti ini, maka produksi udang Sulsel bisa dilipatgandakan, begitu juga keuntungan yang diraup pengusaha.
Ada sebanyak 15 pengusaha anggota SCI Sulsel dengan kepemilikan areal saat ini antara 10 sampai 30 hektare per orang.
Produksi yang dihasilkan setiap tahun hanya sekitar 4.000 ton per tahun dengan produktivitas paling tinggi 16 ton/hektare.
Bila 50 hektare saja dari potensi lahan milik anggota SCI seluas 230 ha itu diolah secara intensif dan menghasilkan rata-rata 50 ton per hektare, maka dengan siklus produksi tiga kali setahun, produksi udang Sulsel tiap tahun akan mencapai 7.500 ton.
"Ini bukan isapan jempol karena sudah terbukti di Thailand dimana petambak di sana bisa menghasilkan 80 ton tiap hektare. Kalau orang Thailand bisa, mengapa kita tidak bisa," ujar Hasanuddin memotivasi para petambak udang anggota SCI.
Darah daging
Bertambak udang bagi ayah tiga putra dan putri ini sudah menjadi darah dagingnya. Itu sebabnya, meski ia terus berusaha meniti karir di pegawai negeri sipil, usaha tambak tidak pernah dilepasnya.
Bahkan, kata pemilik CV. Dewi Windu yang bergerak dibidang produksi benur dan tambak udang vaname itu, ia pernah menanggalkan semua jabatan di lingkungan dinas perikanan Sulsel selama tujuh tahun untuk memperdalam ilmu dan pengetahuan bidang kelautan dan perikanan di Universitas Hasanuddin pada program S2 dan S3.
Hasanuddin mengaku mulai menekuni usaha tambak warisan orang tuanya di Desa Kuppa, Kabupaten Barru, sekitar 150 km utara Makassar ini pada 1994 dan terus meniti karir sebagai pegawai negeri sipil di lingkungan kelautan dan perikanan.
Untuk memperkuat basis usahanya, ia mendirikan CV Dewi Windu pada 1995 dengan bisnis utama adalah memproduksi benur.
Usaha ini dibentuk agar memudahkan dirinya mengakses lembaga-lembaga keuangan serta pembinaan dari pemerintah dan berbagai institusi lainnya.
"Kami mengalami masa-masa keemasan di bisnis ini pascakrisis ekonomi 1998 dimana harga udang mencapai Rp135.000/kg," kata mantan Kepala UPT Dinas Perikanan Kabupaten Barru tersebut.
Dengan omzet ratusan juta rupiah sekali panen pada waktu itu, Hasanuddin yang karir PNS-nya terus menanjak menjadi Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Barru inu mulai memperluas areal tambak dengan membeli lahan milik warga setempat.
"Saat ini saya sudah punya areal sekitar 10 hektare, namun belum semuanya digarap. Saya prioritaskan sebagian areal saja dengan mengelolanya secara intensif. Saya juga sudah merintis usaha tambak udang intensif ini di Parigi-Moutong, Sulawesi Tengah," ujarnya.
Ketika ditanya berapa omzet bisnisnya, Hasanuddin enggan menyebutkannya.
Namun Aris, seorang tenaga kepercayaan yang mengendalikan kolam dan bisnis benurnya mengatakan, "kalau cuma mobil, bapak itu bisa beli lima biji tiap tahun."
Di bidang usaha benur saja, CV. Dewi Windu yang mempekerjakan sekitar 20 karyawan itu, memiliki kapasitas 20 juta ekor sekali panen dan setiap tahun ada delapan kali panen.
Harga seekor benur mencapai Rp20, sehingga bila produksi mencapai kapasitas maksimal, maka omzetnya adalah Rp400 juta sekali panen atau Rp3,2 miliar dalam delapan kali panen setahun.
"Tapi sekarang bisnis benur lagi sepi sehingga omzet kita hanya sekitar 20 sampai 30 persen," katanya merendah.
Ketika ditanya bagaimana ia mengendalikan bisnisnya di tengah kesibukan sebagai Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulteng, Hasanuddin hanya menunjukkan iPad dan iPhone serta alat khusus transaksi elektronik Bank BCA di tangannya.
"Saya kendalikan semuanya dari mana saja dengan alat ini. Jadi tiap hari saya bisa pantau berapa pakan yang keluar, berapa benur yang terjual dan berapa duit yang dibelanjakan. Kala mau transfer uang, saya tinggal tekan tombol alat ini dan dana akan berpindah ke rekening yang dituju," katanya.
Ia menegaskan, sebagai birokrat apalagi sebagai pengusaha, alat-alat komunikasi seperti ini sudah merupakan kebutuhan vital.
(dn/DN/bd-ant)