ADVERTISEMENT
Kesenangan Dan Ancaman Dibalik Mainan Anak
Jumat, 27 Januari 2012

Foto:bd-ant

(Berita Daerah-Jabodetabek) Warna warni mainan dan bentuknya yang unik memang amat menarik mata yang melihatnya, terutama pandangan si kecil.

Beragam jenis mainan dan pilihan harga memberikan keleluasaan pilihan bagi orang tua yang ingin menyenangkan buah hatinya dengan mainan, apalagi mainan edukasi yang dapat memberi nilai positif untuk merangsang pertumbuhan psikomotorik bagi anak-anak bawah lima tahun (balita).

Namun hati-hati, jika para orang tua salah memilih mainan untuk anaknya dengan memberikan mainan yang mengandung zat berbahaya baik dalam bahan maupun pewarna di mainan dimana hal itu malah dapat memberikan ancaman kesehatan bagi buah hati.

Penting bagi para orang tua yang ingin menyenangkan anaknya terutama jika si kecil yang merengek minta dibelikan mainan untuk memperhatikan bahan dan petunjuk di label mainan.

Tidak semua mainan ternyata menggunakan bahan atau cat pewarna yang aman bagi kesehatan anak meski dalam tabelnya terdapat keterangan tidak beracun.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) telah mengumumkan sejumlah mainan edukasi yang dipasarkan di Indonesia, khususnya Jakarta mengandung zat berbahaya logam berat.

YLKI yang telah memeriksa 21 jenis mainan edukasi di dua belas tempat di lima wilayah Jakarta menemukan kandungan logam berat seperti timbal (Pb), merkuri (Hg), cadmium (Cd) dan chromium (Cr) yang terutama berasal dari cat pewarna.

Selain itu YLKI juga menemukan beberapa mainan buatan lokal yang tidak memberikan label petunjuk penggunaan, keterangan usia maupun bahan mainan di kemasannya.

Dalam penelitian yang diadakan pada Maret 2011, YLKI menemukan kandungan timbal terbesar pada mainan edukasi berbentuk dinosaurus kayu dan "puzzle" berbentuk binatang yang berwarna dengan kadar timbal mulai dari 7,57 hingga 8,4 miligram.

Timbal, menurut Ketua Laboratorium Afiliasi Departemen Kimia Universitas Indonesia Sunardi dapat menyebabkan rusaknya pencernaan, mual disertai sakit perut dan diare.

"Untuk konsumsi jangka panjangnya, timbal dapat menyebabkan rusaknya saraf pusat dan vertigo. Gejala yang cukup berat mencakup paralisis sejumlah otot sehingga menyebabkan pergelangan tangan dan kaki lemas dan kejang-kejang yang diikuti dengan koma," kata Sunardi saat konferensi pers mengenai bahaya mainan edukasi anak di Jakarta.

Sunardi menjelaskan biasanya cat pewarna dapat terkelupas dari mainan dan tertelan anak yang menggunakan mainan namun hal itu biasanya tidak selalu diperhatikan oleh orang tua.

Untuk kandungan zat merkuri, YLKI menemukan kadar terbesar terdapat pada mainan berbentuk sempoa berwarna, "Three Branded" dan "Maze" dimana jumlahnya sebesar 12,37 hingga 39,27 miligram.

Zat merkuri yang ditemukan menurut Sunardi juga berasal dari cat pewarna mainan dan bila anak mengkonsumsi zat tersebut dalam jangka waktu yang lama akan mengakibatkan rusaknya keseimbangan, tuli, bronkhitis, hingga rusaknya sistem pernapasan (paru-paru) dan gagal ginjal.

"Zat tersebut dapat menumpuk di ginjal dan sistem saraf selain itu bentuk metil merkuri juga bisa terakumulasi di otak," tambah Sunardi.

Sedangkan zat kromium menjadi zat terbesar ketiga yang ditemukan oleh YLKI terkandung dalam pewarna mainan edukasi.

Kromium dianggap Sunardi dapat menyebabkan kanker paru-paru, kerusakan hati dan ginjal jika terkontaminasi dalam waktu lama.

"Jika terjadi kontak dengan kulit, maka dapat menyebabkan iritasi yang menimbulkan ruam kemerahan serta bisul," kata Sunardi yang menambahkan kromium dalam jumlah besar yang masuk ke dalam tubuh juga membuat kekebalan tubuh melemah dan merusak hati serta mempengaruhi genetika seseorang.

Untuk kromium yang ditemukan YLKI di mainan yang berjenis "puzzle", "City Block A", dan "Plan Toys Balancing Cactus" masing-masing berjumlah 17,47 miligram, 13,76 miligram dan 11,57 miligram.

Sedangkan kandungan logam berat jenis kadmium ditemukan YLKI tidak lebih dari satu miligram pada cat pewarna mainan yang dikelupas oleh tim peneliti.

Meski jumlahnya sedikit, kadmium dikatakan Sunardi dapat menyebabkan rusaknya pembuluh darah, penggumpalan di ginjal dan mempengaruhi otot polos pembuluh darah.

"Zat itu bisa menyebabkan tekanan darah tinggi yang kemudian bisa menyebabkan terjadinya gagal jantung dan kerusakan ginjal serta disfungsi organ dan metabolisme," ujar Sunardi.

Sunardi melakukan uji coba tersebut melalui empat tahap seperti persiapan pengumpulan sample, pembuatan larutan standar kalibrasi, analisis dengan Spektrometri Serapan Atom (AAS) kemudian pengolahan data.

Sunardi mengatakan sebaiknya mainan yang diwarnai menggunakan cat dilapis dengan pernis yang berasal dari getah pohon.

"Jika pernis tidak memberi racun atau sebaiknya dilapis dengan melamin untuk melapisi cat pewarna agar tidak mudah terkelupas. Namun hal itu mungkin akan menambah biaya produksi," kata Sunardi.

Bagi masyarakat awam, Sunardi menambahkan bahwa mainan yang mengandung zat berbahaya biasanya bila dijemur di bawah terik matahari akan mengeluarkan bau yang tidak sedap.

YLKI yang bekerja sama dengan Laboratorium Afiliasi Universitas Indonesia mengumpulkan sample dari pusat perbelanjaan, pasar mainan, swalayan serta toko buku di wilayah Jakarta.

Tempat pembelian YLKI dibeli secara acak di wilayah Kelapa Gading, Pejaten Village, Plaza Semanggi, ITC Kuningan, Ambasador, ITC Cempaka Mas, Senayan City, Mal Taman Anggrek, Pasar Gembrong, Ciputra Mall, Pasar Raya Manggarai serta produsen mainan.

"Sample yang kami ambil dibuat oleh produsen lokal, mainan impor China dan negara lain seperti Israel, Thailand dan Inggris," kata staf peneliti YLKI Noor Jehan.

Menurut Jehan, tren mainan edukasi anak sedang berkembang karena banyaknya pengguna mainan tersebut seperti perorangan, taman kanak-kanak dan Komunitas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sehingga paparan dampaknya dapat terasa cukup besar.

Selain menguji kandungan logam berat di cat pewarna mainan, YLKI juga menganalisa keberadaan label dan informasi pada kemasan mainan tersebut.

"Penandaan pada kemasan produk asal China ada beberapa yang hanya mencantumkan label dalam bahasa China," kata Jehan yang menambahkan untuk produk lokal rata-rata tidak memberikan label atau keterangan dan hanya mencantumkan harga di kemasan.

Jehan menyayangkan ketidakjelasan label yang diberikan di kemasan mainan tersebut.

"Di Eropa kode mainan itu ada jarak yang menyimbolkan C dan E atau disebut `CE marking` sedangkan untuk produk China tidak ada jarak antara C dan E. Namun ada juga produk China yang menggunakan `CE marking` yang mirip dengan produk Eropa. Kami tidak tahu apakah itu produk Eropa dengan klaim China atau dipalsukan oleh pembuatnya di China," kata Jehan.

Jehan menjelaskan bahwa terdapat juga label mainan yang bertuliskan "menggunakan cat yang tidak beracun" namun ketika diuji coba oleh YLKI produk tersebut mengandung racun dalam pewarnanya.

Ketentuan standar mainan di Indonesia sebenarnya berdasarkan Standar Nasional Indonesia SNI ISO 8124-1 : 2010 dan SNI ISO 8124-2 : 2010 serta SNI ISO 8124-3 : 2010.

Dalam standar tersebut tercakup keamanan mainan yang menjelaskan aspek keamanan yang berhubungan dengan sifat fisis dan mekanis.

Kemudian keamanan mainan dengan sifat mudah terbakar dan yang ketiga keamanan mainan mengenai migrasi unsur tertentu.

YLKI berharap pemerintah dapat memberikan standar yang lebih ketat lagi terhadap peredaran mainan anak-anak khususnya mainan edukasi bagi balita karena memang kandungannya yang sangat membahayakan kesehatan buah hati.

"Pemerintah selain mengeluarkan peraturan juga harus melakukan pengawasan terhadap peredaran mainan anak yang berasal dari produsen lokal maupun impor. Namun harap ditekankan kepada pelaku impor karena saat ini era perdagangan bebas dan kita bisa menemukan mainan impor dimana pun," kata Jehan.

Kepada produsen Jehan meminta agar produksi mainan yang diedarkan memenuhi standar keamanan dan menyediakan informasi yang jelas, jujur, dan lengkap terkait produk mainan serta juga menyediakan layanan konsumen.

"Namun semua kembali lagi kepada orang tua karena yang dapat membendungnya juga orang tua anak yang membelikannya," kata Jehan.

Konsumen diharapkan dapat jeli membeli mainan dan jangan mudah terpancing dengan harga-harga yang murah serta warna-warna yang mencolok meski membeli mainan di tempat yang dibilang "keren".

(dn/DN/bd-ant)


Bookmark and Share
11 Komentar
warsito sudwino, 2012-02-16|16:55:52
harus hati-hati dan bijaksana utk membeli mainan utk anak2..saya tdk berpikir sampai kesitu..terima kasih utk infonya
jasmine, 2012-02-10|16:15:21
susah juga ya kalau apa-apa mengandung racun, padahal bukan makanan nih...
iccha, 2012-02-10|13:51:20
diperlukan sebuah wawasan dan ketelitian ya untuk membeli mainan bagi anak-anak
Shepherd, 2012-02-06|14:54:30
Wah harus lebih extra hati-2 lagi ketika membelikan mainan, jng sampe kesenangan menjadi bahaya bagi si kecil
curly, 2012-02-03|20:44:44
jadi harus hati2 ya untuk memberlikan mainan anak
lisbeth, 2012-02-03|18:06:59
yups benar jangan sampai keinginan membahagiakan si kecil berakibat bencana
victor, 2012-02-03|17:35:19
Wah mesti hati-hati nech...makasih sudah mengingatkan
Yoyo, 2012-02-03|10:43:46
Para orangtua perlu waspada nih dan lebih jeli membeli mainan kepada anak-anaknya
Sugi, 2012-02-03|10:08:23
YLKI hendaknya lebih proaktif dalam mensosialisasikan penemuannya ini ke masyarakat. baik orang tua, guru ataupun media masa.
angel, 2012-02-01|13:26:58
wah berarti sekarang harus lebih berhati2 yah dalam memilih mainan untuk si kecil
Dyah Nugrahani, 2012-01-31|15:30:20
Terima kasih untuk informasinya.. ternyata banyak hal yang harus dipikirkan untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak.
LEAVE A COMMENT
Nama * :
Email * : ( tidak ditampilkan )
Website :
Comment * :
Code * :
     
   
Berita Daerah adalah portal Web untuk pusat informasi berita daerah terbagi dalam berita Jawa, berita Papua, berita Sulawesi, berita Bali, berita Kalimantan, berita Sumatera, berita Maluku, berita NTT dan berita NTB. Dilengkapi dengan artikel daerah, riset daerah yang membahas tentang: bisnis daerah, investasi daerah, kebudayaan daerah, dan wisata daerah yang ada di Indonesia.